Laporan Penelitian

Intrik Para Raja di Makam Imogiri

In Total Artikel on Juli 23, 2008 at 4:27 pm

Makam Imogiri terletak di puncak sebuah bukit 12 km selatan Yogyakarta, tempat disemayamkan raja-raja, di antaranya Sultan Agung dan semua raja-raja Kerajaan Mataram, raja-raja Kerajaan Yogyakarta dari Sultan Hamengku Buwono I sampai Hamengku Buwono IX dan keluarga, serta raja-raja dari Kerajaan Surakarta dan keluarga. Setelah Mataram terpecah jadi 2 bagian, yaitu Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Yogyakarta, maka tata letak pemakaman dibagi 2, sebelah timur untuk pemakaman raja-raja dari Kasultanan Yogyakarta dan sebelah barat untuk pemakaman raja-raja dari Kasunanan Surakarta.

Kisah terpisahnya makam raja-raja itu berkaitan dengan pemberontakan Pangeran Mangkubumi terhadap kakaknya, Sunan Pakubuwono III (Mataram) yang kala itu berada dalam cengkeraman kekuasaan Belanda. Perang saudara berakhir dengan Perjanjian Giyanti tahun 1755 yaitu Mataram dibagi dua, sisi barat adalah Kerajaan Yogyakarta dan sisi timur Kerajaan Surakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian diangkat sebagai Sultan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.

Yang unik, selain makam raja, ternyata di salah satu tangga ke makam ada sebuah nisan yang sengaja dijadikan tangga agar selalu diinjak oleh para peziarah yaitu nisan makam Tumenggung Endranata karena dianggap mengkhianati Mataram. Tahun 1628 dan 1629 tentara Sultan Agung menyerang Belanda di Jayakarta, namun selalu gagal, penyebab karena ulah Tumenggung Endranata membocorkan keberadaan lumbung-lumbung pangan prajurit Mataram sehingga dibakar tentara Belanda. Tumenggung itu kemudian ditangkap dipenggal kepalanya, untuk mengenang agar pengkhianatan tidak terjadi lagi, tubuh tanpa kepala Tumenggung dikubur di tangga itu agar semua orang menginjak ”tubuh” pengkhianat itu. Di sisi lain, serangan Sultan Agung gagal, namun Gubernur Jenderal Belanda, JP Coen, berhasil dibunuh. Badan tanpa kepala yang dikubur di tangga Imogiri itu adalah tubuh JP Coen sebagai simbol kebencian terhadap penjajahan. Mana yang benar, belum diketahui pasti.

Akh… Setimpal

Selain itu juga ada pemakaman Banyusumurup, saksi bisu korban sejarah pemerintahan Sunan Amangkurat I yang penuh intrik dan sewenang-wenang. Kompleks makam ini dekat pemakaman Imogiri, tetapi di lembah yang dikelilingi tiga bukit. Di sini dimakamkan Pangeran Pekik (paman raja), keluarga dan pengiringnya, serta Rara Oyi (calon istri raja) setelah dibunuh oleh Amangkurat I tahun 1655. Selanjutnya pemakaman ini digunakan untuk menguburkan keluarga raja atau pembesar kraton yang dipidana mati, seperti Patih Danureja I.

  1. wahhh informasi budayanya sangat berguna mas :D
    semoga akan hadir lagi cerita budaya2 dipostingan selanjutnya

  2. makam imogiri menjadi salah satu sektor wisata. Saya baru tahu saat dulu tinggal di jogja juga. bhkan kaos2 dagadupun nggak lupa mendesainnya, mantap!!

  3. sering dengar tapi belum pernah berkunjung langsung. tubuh tanpa kepala dikubur di tangga? wow *speechless*

  4. info yang sangat menarik, pak aryo. semoga kesadaran budaya sudah muncul di kalangan para elite sehingga budaya hanya sejadar asesoris. :idea:

  5. mantab postingannya!
    jadi tertarik pgn kesana nih :(

  6. Makam bisa di jadikan simbol sejarah dan menjadi cagar budaya yang perlu dilindungi keberadaannya, sangat menarik posting ini untuk kepedulian generasi muda terhadap peninggalan sejarah

  7. Begitu rupa cara manusia menempatkan sesamanya. Betapa pun apa yang sudah ia lakukan. Setimpal kah?

  8. Zaman sekarang kalau mau memastikan apakah itu jenazah JP Coen atau jenazah si Tumenggung gampang kok, tinggal test DNA aja….. pasti ketemu… hehehe….

    Btw…. zaman dulu kalau pengkhianat tertangkap, tidak pakai proses hukum ya?? Langsung dieksekusi! Tapi zaman sekarang juga banyak loh yang masih begitu, lihat saja kalau maling ketangkap tangan, pasti digebugin masa ramai2….. hehehe……

  9. @ Gelandangan
    Iya pak, saya juga simpati dengan pak gelandangan bikin sayembara berhadiah sebagai bukti kepedulian budaya bangsa. Sebetulnya bangsa ini kaya akan budaya etnis.

    @ Antown
    Iya pak, makam imogiri adalah situs budaya, pendidikan dan tempat wisata. Kaos Dagadu berfalsafah semboyan pada Jokja Never Ending Asia, jadi desain2nya lebih banyak mengambil tema pada budaya etnis, tapi dagadu kelihatannya sudah redup oleh banyaknya destro. Di jokja destro kaos sangat banyak, murah-murah lagi.

    @ Nita
    Begitu mbak berdasarkan beberapa sumber tersebut. Kalau tubuhnya dikubur di Imogiri, terus kepalanya di taruh di mana ya *cleguk* terdengar ngeri, ya begitulah intrik dalam hidup bernegara *hiks*

    @ Sawali
    Bener pak, Justru budaya kita luntur atau setidaknya pemahaman pada budaya sendiri hilang karena para generasi mudanya sendiri. Kadang memang aneh, budaya sendiri dihindari dan disingkir-singkirkan karena malah bergaya hidup dengan budaya lain. Padahal kan banyak budaya sendiri yang bermanfaat, padahal kan banyak juga budaya bangsa lain yang tidak bermanfaat tapi dipaksa-paksakan seolah-olah bermanfaat.

    @ Panda
    Kalau ke jokja, monggo silahkan mampir, transportasi mudah, souvenir komplit, kuliner uenak tenan, ceweknya jos, galeri seni, wah pokoknya asik deh. Eh kebetulan sekarang lagi FKY (Festival Kesenian Yogyakarta), ada festival musik, pameran lukisan dan foto, atraksi budaya. Yeeeeahhhhh, silahkan ke jokja, hueheheeh, jadi promosi.

    @ Achmad
    Betul pak, makam imogiri adalah cagar benda purbakala. Di jokja dan di seluruh Indonesia banyak tempat-tempat yang bernilai historis, namun banyak juga yang tidak terawat, padahal kan sangat bernilai harganya dan kekayaan bangsa.

    @ Daniel
    Yah, mungkin dalam konteks kehidupan bernegara seperti itu mas daniel. Nasionalisme Mataram waktu itu berkobar-kobar terutama pada pemerintahan Sultan Agung saat melawan Pemerintah kolonial di Jayakarta. Nah Tumenggung Endranata, justru bersekongkol dengan Belanda. Akh…. harus diteliti kronologisnya hehehe.

    @ Yari NK
    Iya ya, Padahal Mummy Mesir yang berabad-abad saja bisa (eh mummy kan diawetkan, tapi fosil juga bisa), kenapa JP Coen dan Tumenggung tidak ya. Apakah pemerintah atau para peneliti tidak terpikirkan ya. Kalau dulu lansung dieksekusi bisa dimaklumi, sebab Kerajaan Mataram bukan negara konstitusi, jadi hukum adalah sang raja. Sebagai contoh Sunan Amangkurat I yang menjatuhkan hukuman mati begitu saja, mungkin tanpa melalui proses pengadilan. Nah jika sekarang seperti itu yang tidak wajar, RI negara konstitusi, eh maling ayam digebuki sampai abak belur, eh yang maling kakap, tetep santai ngak kena hukum. Tragis.

  10. gw gak pernah maen ksana om… trus klo org ganteng masuk boleh gak… he…he… wekekekek

  11. Dimana2 yang namanya makam raja pasti sakral, nggak kayak makam rakyat biasa yg kena gusuran (udah mati aja kena gusur).

    Tapi yang ziarah kesana pasti banyak yg minta rejeki …

  12. really glad to know u..
    langit di dalam laut memang begitu biru, dan sangat menarik..
    karna itulah langit sebagai apresiasi tinggi-menurutku..
    salam kenal!

  13. weh kandungan historynya dalem ni, memang ndak banyak yang membicarakannya sekarang, ra weruh ra ngerti opo yo ethok-ethoke ra ngerti..

  14. hampir ke sana saat nyasar mengantar seorang teman dari jogja. rencana ke wonogiri malah lewat imogiri. muter jauh sangat.

  15. malah ra ngerti aku cerita itu….
    tapi ngomongke roro hoyi, jadi inget ketoprak di TVRI Jogja….
    kisahnya sering banget dipentaskan di panggung ketoprak.

  16. wahhhhh berlajar sejarah lagi :D

  17. Mengingatkan semasa kuliah di Jogja, dan lebih hebat pesan dalam tulisan Mas Aryo. Selamat ya.

  18. @ Masenchipz
    *celeguk* Sebetulnya ngak boleh, tapi khusus mas encip boleh wakakak… Di sana komplit pak, baik akomodasi dari transport, penginapan, cindera mata, tourist information, guide, dsb.

    @ Seezqo
    Wakakak, sudah mati, kuburan digusur. Itulah nasib rakyat biasa, beda dengan makan para raja. Huehehe. Kalau berziarah untuk mendapat berkah itu dari jaman dulu sampai jaman sekarang juga seperti itu, sudah tradisi hampir di seluruh bangsa Asia. Kepercayaan mungkin masuknya. Tapi bagi saya pribadi, cagar peninggalan bersejarah harus terjaga kelestarian dan otentikannya.

    @ Titinadi
    Iya pak, salam kenal juga dari saya, laporan.

    @ Senimanpeta
    Wah kan ono ning peta topografi. Yo, dolan mrono tho ning imogiri ben sliramu weruh hehe.

    @ Kishandono
    Wah jauh bener pak Imogiri dengan Wonogiri. Kalau ke Wonogiri dari jokja langsung ke solo, atau bisa lewat Wonosari. Tapi lewat Imogiri juga bisa, namun sama juga ngalang (menyudut) jadi tambah jauh.

    @ Abdee
    Iya pak, TVRI jokja, masih tetap menayangkan acara-acara budaya etnis ketimbang sinetron yg gak mutu, hehehe. Rara Oyi memang malang nasibmu nduk.

    @ Zoel
    Iya pak, sekedar info historis dari nusantara ini.

    @ Ersis
    Wah, dulu kuliah di jokja ya pak, di kampus terban (sekarang UNY), Bulak sumur, atau Sanata Dharma? Wakakak, tulisan ini hanya Re-Info saja dari tulisan-tulisan yang sudah ada, penyambung lidah dari penulis yang lebih dulu menulisnya hehehe.

  19. [...] Terkadang artikel yang disajikan membuat hati pengunjung miris dan tak jarang juga membuat tersenyum getir. Sebuah blog yang pantas untuk [...]

  20. hhmm, aku ini orang jogja, yang mengembara ke jakarta… cuma kok umurku udah sekian tetap juga blom bisa menyempatkan waktu ke imogiri… kepengen sih.

  21. bener2 pecinta sejarah… salam kenal, mampir ke galleryku juga yah:) thx b4

  22. bukannya sekarang dah diganti JOGJA?? bukan yogya? yokja? atau jokja? gimana pak

  23. Pengen Maen…
    Kalo mau ke sana dari Sta. Lempuyangan naik apa?
    *Mo naik KA ekonomi ke Jogja*

  24. Wah, sangat membantu sekali infonya neh bagi saya mahasiswa sejarah… Salam kenal mas,…. Link back yaa….

  25. ih ya ampun.. tetep aja serem yah kalo jalan di tempat dimana kita tau ada tubuh tanpa kepala dan kepala tanpa tubuh yang dikubur disitu… dooh.. nyeremin.. :x

  26. wouw nice artikel……
    salam kenal from SKI SMAN 1 SURABAYA

  27. @ Zalukhu
    Thank’s, komen sudah saya kirim

    @ Ilalang
    Memangnya umur Bapak/Ibu ilalang berapa tho *hiks* kok sudah merasa tua. Ya kalau ada waktu, mampir ke imogiri.

    @ Zibalbo
    Iya pak, kalau yang tidak mencintai bangsa sendiri, terus siapa lagi hayo.

    @ Antown
    Iya, kalau sekarang mah banyak yang menyebut JOKJA, saya sendiri binggung Yogyakarta atau Jogyakarta.

    @ Ardianto
    Nah dari stasiun Lempuyangan, itu nak angkutan kota ke Terminal Giwangan, terus oper angkutan jurusan Imogiri. Jadi sangat simpel.

    @ Rizky
    Ah, hanya Re-info kok pak, dari penulis-penulis yang lebih dulu menulis. Ingin lebih jauh silahkan ke situs yang saya tulis di situ. Salam kenal juga pak, dari Semarang-Jogja.

    @ Jane
    Wakakak, tapi Makam Imogiri ngak nyeremin, sekarang menjadi tempat wisata dan cagar benda purbakala.

    @ Smasaski
    Salam kenal juga dari Semarang-Jogja.

  28. Pemakaman feodalisme…:(

  29. kalo saja penghianat2 bangsa sekarang diperlakukan serupa *daydreaming*

  30. salut akan postinganmu sobat :)

  31. Wahh gara-gara mbaca postingan ini jadi mrembet2 cari2: tumenggung endranata, amangkurat, rara oyi di google. Hasilnya belajar sejarah deh. Intinya banyak pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan yang mewarnai sejarah mataram. Ngeriiii