Laporan Penelitian

Arsip untuk Agustus, 2008

cavatina

In Total Artikel on Agustus 27, 2008 at 12:37 am

Hyperreality Paradigm

In Total Artikel on Agustus 22, 2008 at 6:03 pm

Tokoh postmodern, Jean Baudrillard, menyatakan media terutama televisi mampu menampilkan simulasi/model yang demikian intens memenuhi ruang kehidupan sosial, sehingga mengaburkan batas antara citra dan fakta. Citra menjadi lebih real dibanding realitas sebenarnya sehingga cenderung dijadikan kriteria. Ini disebut hyperreal yang menjadi ciri dunia postmodern, yakni kondisi di mana kenyataan sebenarnya kalah oleh citra dan penampakan media. Dian Sastro dan James Bond terasa lebih real dibandingkan tetangga kita sendiri.

Di dalam filsafat postmodern, terminologi karakteristik hypereality adalah perpindahan peran antara reality dan fantasy kemudian membentuk cultur postmodern (posmo).

Ada banyak contoh seperti relity by proxy yaitu lebih nikmat dan puas dengan membuka situs porno dibanding aksi hubungan seks secara nyata, pohon natal plastik terlihat lebih bagus dibanding pohon cemara asli, koran kertas tidak friendly dibaca dibanding cybermedia, atau Dysneland lebih menajubkan dibanding datang langsung ke Antartika.

Pada konteks yang lain, bahwa tidak dapat ditampik, arus akan semakin menuju ke arah dunia virtual. Paradigma hypereal (The Hyperreality Paradigm) memperlihatkan tidak ada lagi batas-batas geografis negara. Informasi dapat diperoleh dari database imajiner senyata dengan dunia nyata menjadi dunia virtual. Data-data virtual ini mampu memberi stimulasi hingga bisa dirasakan dan disentuh seperti menyentuh benda nyata (Physical Reality).

Pada konteks yang lain, saat 10 atau 20 tahun yang akan datang jika orang bertanya pada saya, di mana alamatmu? Kemudian saya jawab di Jl.Diponegoro No.777 Semarang, mungkin orang tersebut akan binggung, karena yang dimaksud rumah yaitu studysafe@mail.com. Bisa jadi 20 atau 30 tahun yang akan datang alamat rumah yang tertulis pada KTP saya yaitu aryobandoro.com. Sehingga setiap bayi yang lahir, maka pada saat itu pula proses registrasi nama domain dirinya dilakukan secara otomatis dan catatan sipil pun menjadi seperti index google.

Mungkin tulisan ini terdengar radikal, namun sangat yakin bahwa proses peradaban sedang mengarah ke sana meskipun dengan teknis yang berbeda, dan meskipun saya sendiri juga bukan tukang ramal apalagi dukun.

Wah… bikin kopi dulu.

Kambing PKI

In Total Artikel on Agustus 19, 2008 at 10:26 am

Jumat siang 15 Agustus, mudik ke Jokja hari spesial, selain 17-an juga jumpa teman sepermainan yang kebetulan juga pulang dari perantauan. Malam hari dilanjut bergadang maklum bertahun-tahun tidak bertemu, kemudian paginya dilanjutkan kerja bakti persiapan tempat upacara 17-an esok hari, namun malam harinya begadang lagi, hik hik… !

Minggu siang, 17 Agustus pukul 10.00 terbangun, ingat bahwa pukul 07.00 pagi tadi upacara, padahal sudah pesan pada ibu agar dibangunkan, namun ternyata beliau tidak tega membangunkan (wah kacau!).

Setelah cuci muka dengan sigap ku raih gelas untuk kopi pagi ini, namun kopi tidak saya temukan, sementara sel-sel tubuh mulai pingsan minta diguyur segelas kopi. Tanpa pikir panjang dan memang terlatih, menuju warung tetangga demi kopi.

Percakapan menarik terjadi antara saya dengan pemilik warung.

”Lho, tadi kok tidak terlihat ikut upacara to mas”. Tanya Sum, Si Punya warung.

Mbak Sum itu badannya gemuk, umur 35 tahun tetapi masih perawan hingga sekarang.

”Saya bagun kesiangan mbak”, jawab saya malas.

”Huh, dasar PKI kamu”, timpal mbak Sum.

Setelah kopi terbayar, saya bergegas pulang sambil merasakan suasana hati.

Kuat tertanam idiom tersebut hingga kini, efek terpaan brainwash regim Orde Baru. Memang sulit mengukur daya fakta, karena motif politik kambing hitam lebih dominan baik kuantitas maupun kualitas. Jika kebodohan ternyata turut menyertai, maka penciptaan slogan ”Awas Bahaya Laten Komunis”, memiliki arti penyebab yang sebenarnya yaitu: ”Awas Bahaya Laten Kebodohan dan Pembodohan”.

Maju itu ke Depan

In Total Artikel on Agustus 14, 2008 at 8:46 am

Ali Khomsan MS dan Tim Ahli Anak dari Ko­misi Perlindungan Anak Indonesia Tb. Rachmat Sentika memberi data sebanyak 4 juta anak Indonesia penderita kurang gizi terancam merosot kondisinya ke gizi buruk jika tidak segera ditangani. Namun pemerintah hanya mampu menangani 39.000 anak gizi buruk per tahun. Di Nusa Tenggara Timur, selama Januari-Juni 2008, sebanyak 23 anak balita gizi buruk meninggal. Ternyata untuk urusan makan pun kita tidak mampu.

Ungkapan Budianrto Shambazy mengelitik, bahwa serangga Undur-undur memang makhluk yang lucu karena berjalan tidak ke depan tetapi atret. Namun bangsa yang berjalan mundur sama sekali tidak lucu, tidak sedikit yang nostalgia dan tergoda ingin kembali ke zaman Orde Baru yang konon lebih sejahtera.

Di masa itu terasa sandang murah, pangan murah, BBM murah, dan sebagainya. Sudah tentu murah karena disubsidi. Namun uang subsidi diperoleh dari hasil utang, sementara uang hasil pajak dan eksploitasi kekayaan alam masuk kantong pribadi. Sekarang tiba waktu untuk melunasi utang sedangkan kekayaan alam negeri sudah terkuras habis dan diangkut ke mancanegara. Inilah disebut sebagai kesejahteraan palsu, hidup berkecukupan tapi uang hasil utang.

Apa yang dirasakan sekarang, berdasar­kan logika kausalitas, tak le­bih dari sekadar akibat. Ibarat di padang pasir yang teramat dahaga, dikepung fatamorgana yang selalu menipu akal sehat, hati nurani, telinga yang berpekerti, serta mata yang tidak cermat. Jika begini, reformasi dan demokrasi menjadi satu-sa­tunya alternatif yang tersedia. Bangsa yang berjalan mundur mempraktikkan talking demo­cracy, bukan working democracy. Bangsa yang berjalan maju se­lalu mencari jati diri dan menatap ke depan mengisi kemerdekaan sesuai dengan cita-cita Proklamasi 1945. Ternyata untuk berjalan maju itu sulit. Pilih berfikir maju atau berfikir mundur.

Mitos

In Total Artikel on Agustus 10, 2008 at 12:53 pm

Mitos (mite, myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar terjadi oleh penganutnya. Mitos menceritakan tentang asal-usul alam semesta, perbintangan, geografi, petualangan para dewa, kisah cinta, dan sebagainya. Di Jawa memiliki mitos, Gunung Semeru sebagai gunung suci yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa atau padi terjadi karena adanya Dewi Sri.

Mitos dapat berperan sebagai pembenar sehingga menjadi suatu cara pemecahan masalah. Bangsa Norwegia, meyakini bahwa ”Thor” mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua ekor kambing melintasi angkasa. Ketika tongkat diayunkan maka akan muncul halilintar dan turunlah hujan. Pola pikir tersebut dapat dimaklumi jaman itu jika kemudian para petani berusaha menyembah ”Thor” sebagai cara untuk manajemen cuaca.

Laporan Pemikiran: Jika memang demikian, menurut saya Dewa ”Thor” telah curang yaitu menciptakan hujan tidak ikhlas karena minta kewajiban disembah (dewa kok curang minta imbalan hiks).

Mungkin banyak sekali dramatisasi dan mitologi dalam konteks sejenis cerita ”Thor” tersebut pada bangsa-bangsa yang lain bahkan di jaman sekarang sekalipun.

Sigmund Freud menyatakan bahwa Mitologi bersemayam di alam bawah sadar (unconscious mind) manusia sebagai awal dari problem solving pada masa kanak-kanak seperti cerita Oedipus, sebab rasionalistas pada tahap itu belum terbentuk. Mitologi berlawanan dengan logika (akal sehat) yang masuk dalam wilayah alam sadar (conscious mind). Kedua pola ini akan selalu tercipta konflik internal pada kepribadian manusia. Mitos bisa berupa wacana atau keyakinan yang keberadaannya satu paket dengan pantangan yang tidak boleh dilanggar, menentang mitos itu ”pamali” (dosa) dan bisa kualat. Logika, lebih menitik beratkan pada analisis pikiran dan persepsi dengan kata lain lebih menonjolkan peran pikiran yang masuk akal.

Di dalam kehidupan berbangsa pun ditemukan mitologi, lagu Koes Plus, ”Tongkat Kayu Menjadi Tanaman”, bangsa ini seperti dibesarkan dengan mitos-mitos, bahwa kita bangsa yang besar, kaya dengan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Dan yang paling hebat, mitos bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, senang bergotong royong, bertoleransi tinggi, berbudi luhur, dan bangsa timur yang memiliki peradaban tinggi.

Apakah bangsa ini sudah terlanjur makmur dan lebih berteknologi tinggi jika dibandingkan dengan bangsa lain, sehingga tidak perlu kerja keras untuk menggunakan logika dan hanya cukup dengan bedoa saja.

Mitologi mungkin akan terus eksis di dalam peradaban ini ketika manusia belum menemukan suatu jawaban atas sebuah misteri. Mitologi bisa tertanam ke dalam kepribadian yang paling prinsip sekalipun, bahkan dijadikan sebuah ideologi. Friksi antara mitologi dan logika akan muncul ketika telah tuntasnya logika suatu misteri, namun pola pikir masih berdiri pada alas paradigma mitologi.

Klaim Sejarah

In Total Artikel on Agustus 5, 2008 at 5:37 am

”Sejarah ditulis oleh yang menang”, demikian kalimat ini disusun. Seorang sejarawan menyatakan bahwa para penguasa selalu berusaha menguasai tafsir sejarah guna melegitimasi kekuasaan, seperti dilakukan Ken Arok ketika mendirikan Singasari dan membuat silsilah yang menerangkan bahwa dia keturunan Raja-raja Mataram. Dalam konteks ini, sejarah memainkan peranannya sebagai sarana propaganda dan melupakan mission sacre-nya sebagai sebuah ilmu objektif yang mengungkap kebenaran.

Pada masa Orde Baru, senantiasa menjadikan bulan maret sebagai bulan propaganda, ada dua peristiwa yang menoreh catatan sejarah bagi figur Soeharto, Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) 1966. Dua momentum historis yang selalu mendapat perhatian khusus Regim tersebut untuk memitoskan dan memberi kesan diri sebagai The Living Legend hingga terbentuk memori kolektif suatu bangsa, dan bahkan mampu menjadikan figur seorang sebagai siapa pahlawan dan siapa pengkhianat.

Selama Orde Baru berkuasa, Soeharto dan pemerintahannya mengklaim sebagai penggagas atau yang berinisiatif atas peristiwa enam jam di Yogyakarta dan meminggirkan peran Sri Sultan HB IX. Klaim tak hanya melalui buku-buku sejarah yang dipergunakan jutaan generasi bangsa ini, juga melalui film dengan adegan pertemuan Soeharto dengan Sri Sultan HB IX yang terpangkas.

Beberapa bukti menyatakan bahwa Sri Sultan HB IX mengirim surat ke Panglima Besar Jenderal Sudirman yang isinya minta izin untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap Belanda. Surat ini dibuat setelah pada awal Februari mendengarkan radio bahwa PBB akan membicarakan Indonesia.

Pada tahun 1973, saat meresmikan Monumen SU 1 Maret di Yogyakarta, Sri Sultan IX menyampaikannya sepatah kata, ”Kami berdua memutuskan melakukan serangan 1 Maret, supaya Pak Harto yang bertanggungjawab serangannya, saya menanggung risikonya di dalam kota”.

Ketika 16 tahun kemudian, yaitu 1989, Soeharto menerbitkan buku “Soeharto: Ucapan dan Tindakan Saya”, yang mengejutkan, dalam buku itu, Soeharto menulis bahwa sebelum 1 Maret dia belum pernah bertemu Sri Sultan. Bagaimana sejarah bisa lurus, jika dua penyataan dari dua saksi berbeda? Histori bangsa dijadikan bola pingpong.

Mungkin, bukan sesuatu yang penting siapa yang mengambil prakarsa serangan I Maret tersebut, namun yang terpenting adalah sejarah atas peristiwa tetap harus diluruskan. Kemudian yang lebih penting lagi bagi kaum muda yaitu dapat mengambil hikmah dan mempertajam daya kritis bahwa sejarah selalu menjadi bagian penting alat legitimasi kekuasaan, sehingga belum tentu “Si Pahlawan” adalah pahlawan dan “Si Penghianat” adalah penghianat.