Jumat siang 15 Agustus, mudik ke Jokja hari spesial, selain 17-an juga jumpa teman sepermainan yang kebetulan juga pulang dari perantauan. Malam hari dilanjut bergadang maklum bertahun-tahun tidak bertemu, kemudian paginya dilanjutkan kerja bakti persiapan tempat upacara 17-an esok hari, namun malam harinya begadang lagi, hik hik… !
Minggu siang, 17 Agustus pukul 10.00 terbangun, ingat bahwa pukul 07.00 pagi tadi upacara, padahal sudah pesan pada ibu agar dibangunkan, namun ternyata beliau tidak tega membangunkan (wah kacau!).
Setelah cuci muka dengan sigap ku raih gelas untuk kopi pagi ini, namun kopi tidak saya temukan, sementara sel-sel tubuh mulai pingsan minta diguyur segelas kopi. Tanpa pikir panjang dan memang terlatih, menuju warung tetangga demi kopi.
Percakapan menarik terjadi antara saya dengan pemilik warung.
”Lho, tadi kok tidak terlihat ikut upacara to mas”. Tanya Sum, Si Punya warung.
Mbak Sum itu badannya gemuk, umur 35 tahun tetapi masih perawan hingga sekarang.
”Saya bagun kesiangan mbak”, jawab saya malas.
”Huh, dasar PKI kamu”, timpal mbak Sum.
Setelah kopi terbayar, saya bergegas pulang sambil merasakan suasana hati.
Kuat tertanam idiom tersebut hingga kini, efek terpaan brainwash regim Orde Baru. Memang sulit mengukur daya fakta, karena motif politik kambing hitam lebih dominan baik kuantitas maupun kualitas. Jika kebodohan ternyata turut menyertai, maka penciptaan slogan ”Awas Bahaya Laten Komunis”, memiliki arti penyebab yang sebenarnya yaitu: ”Awas Bahaya Laten Kebodohan dan Pembodohan”.



”Lho, tadi kok tidak terlihat ikut upacara to mas”. Tanya Sum, Si Punya warung.
harusnya jawabnya gini mas, “tomas udah lewat mba sekarang zamannya olimpiade…!”
insya Allah ga bakal dikatain PKI.
ya.. ya… sejarah harus diluruskan
Ini bukti keberhasilan brainwashing Orde Baru: menjadikan PKI sebagai hantu yang menakutkan sepanjang zaman negeri ini.
Mesti ada usaha untuk memutus cara berpikir semacam itu. Bukan soal Komunisnya, tapi lebih pada menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bukankah kita tidak bisa menuduh sesuatu yang buruk dengan istilah-istilah semacam itu?
Ralat:
Bukankah kita tidak bisa menuduh sesuatu secara seenaknya dengan istilah-istilah semacam itu?
(kenapa diralat, ya biar tidak terkesan acara ngopi Njenengan terkesan buruk, Mas Aryo. Hehehe. Peace!)
salah satu doktrin orde baru yang sangat melekat di masyarakat..
begadang kadang menyakitkan, tapi demi kawan begadang jadi menyenangkan…
yeah.. enak sampean bisa pulang kampung. Sampean di Jakarta mas? balas di blog saya yak
stigma “PKI” warisan rezim orba itu agaknya begitu kuat membekas di tengah2 kehidupan masyarakat kecil, pak aryo, hehehehe
saking lamanya berkuasa, rakyat pun sudah berhasil diindoktrinasi sedemikian masifnya. mudah2an stigma semacam itu bisa berangsur-angsur hilang, pak.
itulah hebatnya orde baru,hahahahahaha…
slmt mlm kembali,mas
mas,udh bikin kopinya?hehehe…
lg apa,mas?
@ Kumlod
Hihi, tomas sudah ikut uber.
@ Sigid
Betul Pak.
@ Daniel
Iya mas, Cap jempol PKI bagi angkatan orba masih membekas. Ya ya Ini masalah yang sangat serius, masa lalu genosida yang kelam. Mana pertanggungwabannya, tidak ada!!!
PKI (Pengemar Kopi Indonesia) wakakak.
@ Emfajar
Doktrin itu sangat kuat saat orde baru pak.
@ Antown
Seperti lagunya bang Rhoma wakakak.
@ Sawali
Betul pak Sawali, semoga begitu, masyarakat harus semakin cerdas dan tidak mudah dibodohi demi keuntungan politik aliran sekelompok atau individu.
@ Langitjiwa
Ini tinggal nyeruput hehe..
@ Laporan:
PKI = Pengemar Kopi Indonesia?
Eit, jangan salah!
PKI juga berarti = Penulis Kesepian Independen!
Huahahaha!!
Budaya kambing hitam yang di propagandakan oleh Rezim orde baru memang masih sangat kuat melekat di masyarakat, entah sampai kapan itu akan hilang dari ingatan masyarakat kita, apalagi ada kecenderungan dari masyarakat kita akan suasana orde baru itu, entahlah….
ah… hari gini masih aja yang terkontaminasi racun orba!
Ingin TERCERAHKAN tentang problem dunia? Lihat “PLANET ROBOT” di blog kami. Muaaaaantteeebbbbbbek!
PKI = Partai Koruptor Indonesia
Awas bahaya laten korupsi!
Yang paling berhasil dicuciotakkan oleh orde baru adalah stigma bahwa komunisme selalu identik dengan ateisme. Padahal inti dari komunisme tersebut bukanlah ateisme. Memang dalam komunisme, agama dianggap sebagai “racun” karena akan berpotensi untuk berbuntut pada perpecahan atau kelas2 dalam masyarakat, sesuatu yang sangat tidak disukai oleh komunisme, yang berakar dari kata Perancis, commun atau common dalam bahasa Inggris yang berarti persamaan.
Jadi komunisme tidak sama dengan ateisme, komunisme intinya bukan ateisme dan mencakup aspek2 yang sangat luas dalam politik, ekonomi, administrasi dan lain sebagainya. Rupa2nya sentimen ateisme sengaja digelembungkan oleh orde baru agar kita “tertipu” dan membenci komunisme secara membabibuta………
Kalau saya sih akan menimpali “Huh, dasar orde baru kamu!”. Wakakakakak…..
Dan semua yang kiripun diharamkan….
wong PKI kue jare yen dicukur rambute treus diperesi jeruk pecel njur thukul palu arite, jare ho’o po?
iy emang orang kiri ndak boleh yach..tangan aja punya fungsi di sebelah kiri.perempatan aja ada simpang kiri…malah tuh kernet metro mini beraliran kiri…kiri..kirii mas..( wong orde baru adalah PKI yang merubah wujudnya jadi sarangnya Perkumpulan Koruprtor Indonesia..recordnya 32 taon bokk..)
seberapa besar “motif politik kambing hitam lebih dominan baik kuantitas maupun kualitas” yang penting “KEBENARAN ITU LEBIH BAIK DARIPADA YG JELEK” wokke…. he…he..
Yah…begitulah.. Orde baru emang ahli bikin doktrin
@ Daniel
Haha, njenengan ngaku ya wakakak.
@ Achmad
Betul pak, mungkin butuh 1-2 generasi baru yang tidak kena brainwash Orba.
@ Qizinklaziva
Iya pak, sudah tertanam sulit terhapus.
@ BigBang
Iya pak Salam kenal
@ Shaleh
Yap, Bahaya Laten Koruptor.
@ Yari NK
Betul pak, paham sosialisme (komunisme) Karl Marx *betul kan?* merupakan masyarakat yang tanpa kelas-kelas, karena di dalam kapitalisme memunculkan kelas tersebut. Jadi Domain Komunisme adalah Sosial, politik, dan ekonomi. Nah suksesnya doktrinasi orba adalah komunis itu ateis, Ini dijadikan senjata ampuh untuk legalisasi regim itu dalam tampuk kekuasaan. Kalau dilihat dari skala global, yaitu geopolitik waktu tahun 60 (pada era perang dingin) sepertinya memang skenario pihak luar main mata dengan Orba, PKI merupakan kambing hitam (korban).
@ Coretanpinggir
Malah saya yakin, ada proses genosida di dalamnya.
@ Ndoro Seten
Wakakak, dikeceri jeruk malah dadi wedang jeruk, kulo percoyo pak ndoro. hihi.
@ fahrizalmochrin
Kalau tidak ada kiri maka otomatis tidak ada kanan juga pak. Jikapun tidak ada kiri, maka diadakan seolah kiri itu ada, ini yang saya maksud dengan kambing hitam. PKI sudah tidak ada tetep saja orba bilang awas bahaya laten PKI. Dulu ada orang yang mengkritik sedikit saja dituduh PKI. Betul pak, yang lebih bahaya itu Perkumpulan Koruptor Indonesia, hehe.
@ Masenchipz
Betul pak encip, kebenaran itu lebih baik dari pada jelek, wakakak.
@ Septy
Iya mbak, tapi kalau doktrin itu baik harus didukung, misalnya doktrin kebijakan ekonomi rakyat, kesatuan NKRI, keadilan sosial, dll.
Duh, saya lebih kasihan dengan kambingnya. dia ga tau apa-apa tapi kok sering disalahkan ya…
Terlalu dalam menancap dan susah untuk dicabut atau dikeluarkan…
lho lho, bukannya PKI tu Panda Keren Iya kan ?
benar kata pak Sapimoto susah untuk dicabut
Serem lihat gambar di atas hihihihi
@Panda Setuju banget heheheh
apakah semua anggota PKI bangunnya siang??
Partai Kyai Indonesia
lha emang begitu kali ya di kambingkan dengan konotasi tertentu tapi lebih baik KAMBING ETAWA saja hehehe
karena cap seperti itu jadi banyak sekali yang tidak tahu bagaimana PKI yang sebenarnya… kasihan PKI
Propaganda nilai2 standar orba emang manjur. pandangan PKI = tidak bertuhan dah sangat stereotip
di jerman dan cina sendiri wujud komunisme sangat berbeda
Nak PKI trus ngopo ?