Arus Global Munculnya Inisiatif StAR Berantas Koruptor?

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan Bank Dunia meluncurkan sebuah inisiatif baru, untuk mengembalikan miliaran dolar uang rakyat yang dicuri oleh para pemimpin dan pejabat korup dari negara-negara berkembang setiap tahunnya. Inisiatif untuk Mengembalikan Aset yang Dicuri (The Stolen Asset Rocovery Initiative atau disebut juga dengan StAR Initative) dimaksudkan untuk memberi kekuatan kepada pasal-pasal pada United Nations Conventions Against Corruption (uncac), traktat PBB untuk memerangi korupsi global, yang berlaku efektif sejak Desember 2005. Indonesia sendiri merupakan pihak dalam traktat itu, dan DPR telah mengesahkan UU Ratifikasi terhadap Konvensi PBB tentang Anti-korupsi pada Maret 2006 lalu.

Ada beberapa alasan yang mendasari munculnya inisiatif tersebut yaitu:

Pertama, Pencurian aset merupakan problem pembangunan yang sangat besar, banyak negara berkembang sangat membutuhkan biaya untuk memerangi kemiskinan. Bank Dunia memperkirakan jumlah uang hasil korupsi yang mengalir dari negara-negara berkembang diperkirakan mencapai US$ 40 miliar setahunnya, jumlah itu kira-kira 40 persen dari dana pembangunan.

Kedua, Biaya sesungguhnya sebagai akibat dari korupsi jauh lebih besar dibandingkan nilai aset yang dicuri tersebut, karena di negara-negara berkembang kaum miskin mengalami kesulitan mendapat layanan kesehatan, pendidikan, air bersih, sanitasi jalan.

Ketiga, Pada akhirnya Korupsi akan merusak demokrasi, melanggar hukum, mengikis kepercayaan publik pada institusi pemerintahan, rasa keadilan dan kemanusiaan, serta mengarah pada kekerasan HAM hingga terorisme.

Laporan yang disusun Kantor PBB urusan Obat-obatan dan Kriminal (UN Office on Drugs and Crime/UNODC) bersama Bank Dunia, menyatakan jumlah uang yang mengalir lintas batas negara dari kegiatan kriminal dan penggelapan pajak dari seluruh dunia diperkirakan antara US$ 1-1,8 triliun (saya sendiri belum pernah lihat uang sebanyak itu..). Jika sebanyak US$ 5 miliar sudah cukup untuk kebutuhan Nigeria membangun sektor pendidikan dan kesehatan pada tahun 2006, juga bisa membantu memberi obat anti-retroviral kepada dua sampai tiga juta penduduk yang menderita HIV/AIDS selama 10 tahun. Korupsi bisa mematikan, seperti pada petugas medis yang korup dan memberikan pengobatan karena disuap atau petugas yang menerima suap dari teroris untuk bisa melakukan aksi terorisnya (wah kok ngeri ya..). Diperkirakan US$ 1-6 biliun menguap di seluruh dunia karena korupsi per tahun. Jumlah itu plus seperempat produk domestik bruto (PDB) negara-negara di Afrika, senilai US$ 148 juta, yang juga turut menguap. Pejabat-pejabat publik di negara-negara dunia ketiga menerima suap antara US$ 20-40 juta yang setara dengan 20-40 persen dana bantuan pembangunan.

Jika kerjasama dari inisiatif StAR tersebut terwujud maka ada dua fokus dalam implementasinya yaitu:

Pertama, Bagi negara-negara yang menjadi korban praktek korupsi yaitu pengamanan aset-aset publik dengan membentuk lembaga anti korupsi yang independen dan menjamin standar integritas dan mengungkap kekayaan para pejabat publik. Negara-negara tersebut pada umumnya (bahkan semuanya) adalah berstatus negara berkembang dan miskin.

Kedua, Bank-bank internasional sebagai tempat penyimpanan (transaksi) uang hasil korupsi dan perusahaan-perusahaan sebagai tempat “money laundry” (cuci uang-bukan cuci baju!) perlu diawasi lembaga-lembaga keuangan. Kerahasiaan perbankan bukan lagi penghalang bagi penyelidikan kegiatan pencucian uang (kondisi ini mematahkan kerahasiaan bank yang dicurigai menjadi tempat koruptor menyimpan hasil curiannya, untuk kepentingan investigasi).

Ketiga, Bagi negara-negara kaya yang biasanya menjadi tempat bank-bank tersebut berada penerima uang-uang hasil korupsi, perlu mengawasi lembaga tersebut.

Suatu premis bahwa tidak ada tempat yang aman untuk menyimpan uang hasil korupsi maupun pencucian uang lintas negara. Jika demikian maka di dalam implementasinya dibutuhkan adanya koordinasi horisontal antar negara yaitu negara korban (negara berkembang) dan negara penyimpan uang korupsi (negara maju) dan koordinasi vertikal dengan PBB maupun badan-badan korporasi misalnya bank-bank internasional. Negara berkembang bersama-sama dengan PBB dan badan-badan korporasi tersebut harus bergabung dalam upaya memerangi korupsi, tanpa kerjasama, uang-uang curian akan tetap mengalir.

Satu hal yang menjadi perhatian utama komunitas internasional dalam usaha mereka membantu negara-negara anggotanya dalam memberantas korupsi adalah pengembalian aset (asset recovery). Hal ini dapat dipahami karena keterpurukan sosial ekonomi sebagaimana misalnya dialami Indonesia tidak dapat dipisahkan dari praktek korupsi yang menggurita. Untuk mendorong usaha pemulihan kondisi sosial ekonomi itulah maka sangat penting bagi Indonesia untuk menarik kembali hasil korupsi yang telah dilarikan ke berbagai negara. Bahkan khusus untuk kasus Soeharto, PBB dan Bank Dunia telah menggagas lahirnya StAR sebagai upaya membantu, sekaligus menekan Indonesia untuk menuntaskan berbagai perkara korupsi.

Pertanyaannya kemudian, seberapa serius Pemerintah Indonesia merespon ulur tangan dari komunitas internasional untuk melawan korupsi? Untuk diketahui, mantan Presiden Soeharto merupakan pemimpin dunia yang paling korup di mata PBB dan Bank Dunia. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto diduga telah mengkorupsi uang negara antara US$ 15-35 miliar.

Berdasarkan Transparency International jumlah tersebut menempatkan Soeharto pada nomor satu koruptor terbesar pemimpin-pemimpin di dunia, disusul Ferdinand Marcos (Filipina 1972-1986, US$ 5-10 miliar), Mobutu Sese Seko (Zaire 1965-1997, US$ 5 miliar), Sani Abacha (Nigeria 1993-1998, US$ 2-5 miliar), Slobodan Milosevic (Serbia/Yugoslavia 1989-2000, US$ 1 miliar), Jean-Claude Duvalier (Haiti 1971-1986, US$ 300-800 juta), Alberto Fujimori (Peru 1990-2000, US$ 600 juta), Pavlo Lazarenko (Ukraina 1996-1997, US$ 114-200 juta), Arnoldo Aleman (Nikaragua 1997-2002, US$ 100 juta), Joseph Estrada (Filipina 1998-2001, US$ 78-80 juta) … mereka seperti para selebritis saja ya…

Bagaimana dengan Indonesia? Tanyaken pada rumput yang bergoyang….. sambil memandang rembulan…… sambil minum kopi….. (besuknya bangun kesiangan… huk huk huk).

4 pemikiran pada “Arus Global Munculnya Inisiatif StAR Berantas Koruptor?

  1. Ah…..saya tidak begitu percaya sama statement PBB. Bukankah PBB sebenarnya hanya representasi para pemegang hak veto…..? lalu apa yang bisa diharapkan dari “ketidak adilan” ini. Jika mereka menyuarakan HAM dan memberantas korupsi, saya skeptis…karena harta koruptor sebagian besar berada di negara-negara yang katanya “demokratis” termasuk menyimpan harta curian dari para koruptor. Lihatlah Singapore……, swiss, australia….kalau duit mana ada yang mau kembalikan bunk.

  2. Adanya SINYAL bahwa TIKUS-TIKUS hewan PENGERAT ini sudah begitu merisaukan KEHIDUPAN dalam suatu bangsa. sampai2 PBB harus merumuskan ATURAN untuk membuat BARICAGE di setiap Bank-Bank besar yang selama ini dijadikan sarana untuk menumpuk-numpuk Duit hasil KRIKITAN sang Tikus-Tikus yang menggerogoti uang Rakyat.

    Sebuah keinginan yang patut mendapatkan dukungan dan support dari segenap bangsa. Demi kemajuan dan kemakmuran manusia.

    Salam Mas Bandoro
    Numpang CORETAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s