Tidur di Jalan

Seminggu sekali pulang ke Jogja, tempat tinggal orang tua juga tempat dulu jalani masa kecil. Aktivitas ini berlangsung sejak tahun 1999, lebih suka menggunakan bis karena bisa sambil tidur atau baca-baca koran. Satu hal yang tidak pernah berubah hingga reformasi ini adalah begitu banyaknya ditemui anak jalanan, bahkan terlihat berusia di bawah tujuh tahun. Tanpa alas kaki mengamen, jualan koran, atau jadi copet kecil-kecilan. Padahal dunia tidak pernah berkata fakir miskin dan anak-anak terlantar tidak dipelihara oleh negara. Akh… anak jalanan tidur di jalanan.

42 pemikiran pada “Tidur di Jalan

  1. ini bisa jadi bukti otentik *hiks* kalau amanat UUD’45 belum bisa sepenuhnya dijalankan secara konsisten dan konsekuen, pak aryo. ironis sekaligus tragis. banyak duwit dikemplang oleh para pencuri berkerah putih, tapi di sisi lain, banyak pemandangan memilukan. btw, saya jadi heran juga, pak, di mana2 kok pasti ada pemadangan yang memilukan seperti itu, ya?

  2. nambahi komen bang sawali :

    kl yg ngemplang pejabat, paling diperiksa thok, tapi gak ada juntrungannya…
    sidang dari temuan KPK banyak, tapi kemana hasil korupsi tsb gak ada yg mbahas….

  3. konon anak2 ini juga dikoordinir oleh semacam sindikat yang menguasai anak2 tsb, terlebih lagi mereka yang telah dimasukan ke panti asuhan/yatim piatu oleh pemerintah setempat akan memilih keluar karena gak betah.. entah siapa yang salah..

  4. bagi pemerintah, fakir miskin tentunya cuma prioritas kesekian. bagi mereka, masih banyak pekerjaan yg lebih ‘penting’ dan ‘substantif’ drpd cuma sekedar mengurus para gembel

    btw depsos kemana ya?

    *mikir2 agak lama*

    di sini juga banyak homeless. mengais2 sampah mencari botol bekas. siapa sangka superpower kayak AS masih punya banyak gelandangan

  5. Kalau saya pulang ke Semarang, sama juga. Memang sepertinya jumlah anak jalanan ini tambah banyak… Miris ya, sedangkan ada bermilyar (atau malah bertrilyun?) Rupiah digunakan untuk dana kampanye Pemilu…
    -Mee-

  6. Perlu koreksi dari semua fihak….. pemerintahnya perlu “dikoreksi”, rakyatnya sendiri juga perlu “dikoreksi”. Menurut saya pandangan banyak anak banyak rezeki sudah pasti harus dihilangkan dan program KB harus dijalankan lagi. Juga cara pandang masyarakat yang menggampangkan pernikahan (walaupun sebaiknya jangan dibuat sulit juga) walaupun penghasilan tidak tetap namun tetap nekad untuk menikah dan mempunyai anak, ini juga sebuah pandangan yang “nekad” dan sama sekali tidak bijaksana..

    Mulai sekarang masyarakat kita harus berfikir tentang kualitas bangsa bukan hanya sekedar ‘berfikir’ tentang kuantitas bangsa yang pada akhirnya hanya justru “menjatuhkan” martabat bangsa…..

  7. @ Achmad
    Semoga pak, harapan kita semua.

    @ Sawali
    Mungkin di setiap kota pak, jumlahnya anak jalanan pun semakin meningkat, th 1999 ada 39.861 anak, th 2002 ada 94.674, dan th 2004 ada 98.113 anak. Sedangkan jumlah anak miskin th 2003 usia antara 6 – 18 tahun sebanyak 36.500.000 jiwa ini baru di 12 kota besar (Depsos).

    @ Niaalive
    Hiks… mbak niaalive tidur di pelataran mall kan dalam rangka kerja, jadi ya tidak termasuk anak terlantar. Tapi aslinya setiap warga negara itu juga dipelihara oleh negara.

    @ Shaleh
    Iya pak, peraturan tidak hanya untuk dibuat tapi juga harus dipraktekkan. Ketiga anak itu tidur di tengah jalan, tapi di atas verboden *betul ngak tulisannya*.

    @ Kishandono
    Permasalahan inilah yang setiap hari dirapatkan oleh bapak-bapak kita di kantor yang megah dengan AC, digaji berikut tunjangan mobil plus sopir, rumah, dsb. Tapi….. tetap belum terpecahkan hehehe.

    @ Torasham
    Pada tahun 2005 Departemen Sosial RI. melalui dana Dekonsentrasi sebesar Rp.46.510.000 dialokasikan di 12 Propinsi dan hanya bisa menangani 46.800 anak jalanan (Depsos). Bandingkan dengan uang negara yang telah dicuri, milyaran hingga trilyun mungkin kalau ditotal semua.

    @ Gunawanwi
    Betul pak, masalah kependudukan banyak yang terlibat, tidak hanya Depsos tapi juga Pemkot, Diknas, juga Kepolisian karena disinyalir banyak juga mafia-mafia yg mempekerjakan mereka, juga masalah narkoba dan kriminalitas. Ada yg bilang anak-anak itu setoran ke preman jalanan yg menguasai daerah tsb.

    @ Mang kumlod
    Iya mang, memprihatinkan.

    @ Nita
    Iya mbak, kenyataan seperti itu, dana kesejahteraan untuk mereka paling setahun puluhan juta, eh bandingkan dulu untuk klub sepakbola saja Pemkot Kabupaten bisa mengelontorkan dana milyaran.

    @ Panda
    Betul pak, potret Indonesia yang memalukan.

    @ Langitjiwa
    Begitulah bung jiwa

    @ Meekaela
    Wah mbak, jangan tanya deh berapa besarnya dana kampanye Bupati saja sampai puluhan milyar, sebenarnya Indonesia ini kaya, tapi rakyatnya miskin.

    @ Ika
    Iya mbak, bikin malu sama turis, piknik ke Indonesia ngeliat anak jalanan

    @ Yari NK
    Nah, ini, kalau belum mampu menikah, jangan nekad menikah. Bikin tambah sengsara. Hehe kalau dulu banyak anak banyak rejeki, sekarang banyak anak banyak pengeluaran. Setiap anak banyak rejeki juga betul, tapi mikir kesejahteraan juga penting. Hiks martabat bangsa juga dipertaruhkan, banyak penduduk, banyak kemiskinan. Malu dibilang negara miskin.

    @ Eka
    Pemerintah harus dan wajib memikirkan persoalan ini, mbak.

    @ Mahavatar
    Iya pak, anak jalanan ya hidup di jalanan, tidak punya rumah alias homeless.

    @ Sapimoto
    Memprihatinkan pak

    @ Achoey
    Betul pak, negeri ini harus bangkit meraih masa depan yang lebih baik.

  8. du rek mesakke tenan bocah2 iku😦

    di sini anak2 dpt uang anak dr lahir sampai ntar umur 18 thn yang biasanya ditabung orang tua masing2 buat keperluan mereka di masa datang.

  9. kecil tidur pinggir jalan… ntr klo dah gede tidur dimanaaa… jalanan dah diperlebar…. bisa tdur ditengah jalann….
    btw yuk mari… kita bantu mereka.. klo gw mungkin cuma bsa berdo’a… semoga mereka diberi kelapangan hati dan rezki… amiin

  10. @ Shaleh
    Iya pak

    @ Elys
    Wah, beda negara beda aturan mbak, andaikata di sini juga begitu.

    @ Masenchipz
    Semoga mas encip.

    @ Enpe
    Kelihatannya kok di mana-mana mbak.

  11. Jumlahnya malah semakin banyak sekarang, mana nih para pemimpin, kayaknya cuma janji2 aja.

    Eh tapi aku pernah sekali tidur di jalan Malioboro dulu sekali , pas jamannya liburan, masa itu memang banyak remaja2 yg datang dari berbagai daerah dan nongkrong semaleman di jalan kebanggaan Jogja itu. Engak tau sekarang …

  12. yah… sama seperti komentar diatas, memang itu suatu potret kemiskinan di republik kita ini. Tapi itu semua bukan hanya tugas pemerintah aj, itu tugas kita smua… walaupun seberapa kecil itu, give a real contribution sangat bisa membantu mereka… jadi mulailah membuat langkah-langkah nyata untuk membantu mereka….

    untuk yang punya blog, meth kenal yah ^^

  13. tambahan… help them dan jangan mendiskriminasikan mereka karena mereka bagian dari masyarakat Indonesia yang termarginalkan…

  14. Di jogja emang setahuku jarang ada gusuran anak jalanan.
    jadi anak jalanan pating slebar dimana mana…

    btw, anak jalanan memang nggak cuma selesai masalahnya dengan menangkap, dan memasukkannya ke dalam panti.

  15. @ Seezqo
    Kalau pak Seezqo tiduran di jalan sih, bukan tergolong anak terlantar tapi mencari inspirasi hehehe. Khusus Malioboro itu memang unik, tempat publik yang nyaman, banyak wisatawan dan para seniman nongkrong di sana. Ada taman, museum, galery, juga disediakan panggung dan tempat duduk, pokoknya nyaman deh *hiks* promosi lagi.

    @ Krucial
    Iya pak, do something, langkah kongkrit. Namun kalau memberinya uang kadang juga tidak mendidik. Salah satu simbangan yang terbesar adalah memberi nasehat atau spirit, agar menjalani hidup jangan sampai putus asa, tetap semangat meskipun dihimpit oleh keadaan. Mereka itu tidak hanya orang yang sangat amat miskin ekonomi, atau korban kebijakan pemerintah yang salah. Tetapi juga karena faktor orang tua, seperti perceraian atau broken home.

    @ Abdee
    Iya pak, maksud saya perjalanan dari Semarang Ke jokja, yang banyak anak jalanan itu Semarang, Banyumanik, Ungaran, Bawen, dan Magelang. Rata-rata para pengamen, meskipun jarang langsung bertemu, karena saya lebih banyak naik bis patas atau travel. Tetapi selalu melihat mereka.

  16. […] Tidur di Jalan Seminggu sekali pulang ke Jogja, tempat tinggal orang tua juga tempat dulu jalani masa kecil. Aktivitas ini berlangsung sejak tahun 1999, lebih suka menggunakan bis karena bisa sambil tidur atau baca-baca koran. Satu hal yang tidak pernah berubah hingga reformasi ini adalah begitu banyaknya ditemui anak jalanan, bahkan terlihat berusia di bawah tujuh tahun. […] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s