Sisa-Sisa Peristiwa 27 Juli

E D A N

sudah dengan cerita mursilah?

edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja

edan!
sudah diperas
dituduh maling pula
sudah dengan cerita santi?

edan!
karena istirahat gaji dipotong

edan!
karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang

edan!
kita mah bukan sekrup

Wiji Thukul, Bandung 21 Mei 1992

Teringat Wiji Thukul. Seorang buruh pelitur kayu dan penyair kurus.
Melawanan kekejian regim waktu itu.
Hingga kini lenyap bak ditelan oleh kensunyian malam.
Terbawa angin begitu saja.

Akh… di manakah kamu Wiji Thukul?

41 pemikiran pada “Sisa-Sisa Peristiwa 27 Juli

  1. Mari kita menundukkan kepala sejenak, untuk kemudian mendongak kembali. Sempatkan waktu beberapa jenak untuk merenung, tapi jangan terlalu lama. Mendongak lagi, bekerja lagi, semangat lagi. Masih banyak yang mesti kita selesaikan.

  2. Kejahatan kemanusiaan tentu adalah kejahatan yang tidak pernah bisa diterima dalam dunia yang beradab. Namun, terlepas dari kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh penguasa dan kaum kapitalis, seyogianya kaum buruh juga mengkoreksi dirinya sendiri.

    Kaum buruh yang baik tentu saja adalah buruh yang tidak hanya bisanya hanya meminta lebih hak2nya tetapi juga harus bisa meningkatkan kemampuannya sehingga ia mempunyai bargaining power yang lebih kuat. Jadi jangan hanya minta kenaikan gaji tetapi ia tidak mau mengasah ketrampilannya lebih dalam lagi. Inilah yang sekarang banyak terjadi di negara kita, buruh meminta kenaikan gaji tetapi ia enggan menaikkan skill-nya sendiri.

    Namun di sisi lain, tentu kaum kapitalis juga wajib menghargai kaum buruh karena bagaimanapun juga manajemen modern menganggap buruh sebagai human capital yang harus dijaga seperti halnya capital2 lainnya dalam perusahaan. Jadi, hubungan antara kaum kapitalis dan buruhnya harus didasarkan kepada saling memberi dan saling menerima sesuai dengan kapasitasnya, bagaimanapun juga kalau perusahaan bangkrut, yang merasakan pahitnya bukan hanya kaum kapitalisnya saja tetapi juga tentu akan dirasakan kaum buruhnya. Kebersamaan sangat diperlukan dalam mengarungi dunia kompetitif global yang semakin “kejam” ini, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh………

  3. @ Daniel
    Tepat pada tanggal ini adalah tonggak mau di bawa ke mana negara ini, setelah 12 tahun pun ekonomi bergerak lambat bahkan kalau menurut saya berjalan ditempat Banyak dimensi permasalahan yang sulit terpecahkan. Memang situasi berbeda, tapi bandingkan dengan thailand atau korea yang sama-sama kena krisis tetapi bangkit lebih cepat dai Indonesia. Ini yang disebut sebagai akibat dari sisa-sisa orde sebelum reformasi, baik ekonomi, sosial, hukum, dsb. Betul mas, jadi kita harus bekerja dan berdoa.

    @ Yari NK
    Sebetulnya masalah perburuhan ditangani dengan sistem tripartit, yaitu buruh selaku tenaga kerja, pengusaha selaku pemilik perusahaan, dan pemerintah, selaku regulator. Tiga hal ini tidak dapat dipisahkan secara sepihak, produktivitas dan kinerja suatu perusahaan atau usaha tidak akan maksiksimal jika salah satu dirugikan. Sistem tripartit sudah berjalan sejak jaman dahulu yaitu sebelum reformasi. Sekarang sudah lebih baik karena aspirasi buruh lebih didengar dan pemerintah lebih fair dan menyelesaikan sengketa yang terjadi antara buruh dengan pengusaha. Nah hal ini jauh berbeda dengan pada masa sebelum reformasi, pada saat itu suara dan hak-hak seperti dibungkam, banyak sekali kasus seperti dikubur begitu saja, salah satunya adalah Wiji Thukul. Inilah sekelumit sisa-sisa di masa yang lalu.

  4. Walaupun sistem tripartit sekarang sudah lebih baik dari dulu, namun ada satu yang masih ‘kurang’ dalam perburuhan di Indonesia ini, yaitu: KESADARAN buruh untuk meningkatkan skill-nya sendiri yang masih sangat rendah. Padahal itu sangat membantu atau menaikkan bargaining power/posisi tawar buruh kepada kaum kapitalis (pengusaha). Sistem tripartit adalah faktor eksternal dalam melindungi hak2 buruh, tapi daya tawar buruh yang tinggi adalah faktor internal dari dalam buruh sendiri agar kaum buruh tidak lekas dipermainkan oleh kaum kapitalis. Analoginya seperti tubuh kita, obat adalah agen yang membunuh penyakit dalam tubuh kita, tapi sistem imunitas tubuh adalah faktor internal yang dalam jangka panjang akan melindungi tubuh kita dari penyakit…….

  5. sungguh, saya tak habis pikir, kenapa penyair semacam wiji thukul dianggap klilip oleh rezim yang berkuasa 12 tahun silam? sdh demikian berbahayakah sosok sang wiji sehingga dia mesti disingkirkan? pertanyaan itu sampai sekarang masih terus menggema, pak aryo. banyak teman yang berempati terhadap dia. banyak yang bertanya-tanya, termasuk si pon istrinya, bagaimana keadaan penyair cedal itu sekarang? masih hidup atau sudah berpulang ke haribaan-Nya. sungguh, jika rakyat dibungkam, rakyat tak boleh bersuara, maka hanya ada satu kata: “lawan!” semoga keluarga widji thukul diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup!

  6. entah berapa banyak korban serupa wiji thukul yg lenyap tak berbekas selama rejim orba.

    yg bikin heran bukankah lebih banyak puisi2 yg lebih tajam drpd karya thukul pd saat itu. lalu mengapa ia yg jadi korban? apa krn ia dianggap cuma penyair kecil dan bukan penyair high profile spt rendra atau sastrawan pramoedya (yg meski dipenjara tapi tak ‘dilenyapkan’)?

  7. wiji thukul ? jujur aja baru denger tu nama. tapi keren jg EDAN-nya🙂

    hidup makin hari makin susah, makin hari makin keras.
    REBUT!!! UBAH!!! jangan berdiam diri

    EDAN🙂

  8. @ Kishandono
    Ayo ayo semangat Indonesia. Saya sendiri meskipun pesimis, tetapi tetap yakin lebih banyak positifnya. Masa depan bangsa ini akan lebih baik untuk ke depan.

    @ Aliefte
    Itu puisi Wiji yang berjudul peringatan, hehe.. Kalau sekarang ini pak: lawan kemiskinan, lawan kebodohan, lawan kemalasan, lawan ketidakdisiplinan, lawan ketidakpedulian, lawan perusak lingkungan, dsb.

    @ Zoel
    Wakakak, selamat ulang tahun. Waktu itu pak zoel masih umur 10 tahun, ada kejadian yang sedikit penting (meskipun tidak sepenting sumpah pemuda atau proklamasi) dalam sejarah konstelasi kehidupan kebangsaan di negeri ini.

    @ Yari NK
    Wah ini yang sulit pak Yari, investor manufaktur yang membangun pabrik di Indonesia lebih banyak pada industri pengolahan sumber daya alam seperti kayu dan tambang, serta industri yang padat karya karena mereka membutuhkan banyak tenaga kerja. Nah tenaga kerja Indonesia ini bernilai murah. Jadi betul, salah satu disebabkan karena Tenaga kerja Indonesia memiliki SDM yang rendah. Sebetulnya bicara masalah mutu SDM menjadi sangat komplek, selain buruh itu sendiri juga pemerintah sebagai regulator. Tingkat konsumsi dan minat membaca saja orang Indonesia kalau diringking paling rendah di Asia hueheh… Masalah menjadi melebar dan sangat komplek, banyak faktor penyebab. Saya tidak melihat sebelah mata, bagaimana para TKW berjuang hingga ke luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan dengan modal pas-pasan hanya menjadi pembantu rumah tangga. Apakah lebih baik jika dengan mengganggur di desa.. Sebenarnya pemerintah sebagai regulator untuk menyusun regulasi dalam meningkatkan SDM masyarakat Indonesia sehingga bisa lebih bermartabat dan memiliki posisi tawar yang fair di dalam dunia ketenagakerjaan. Eh… yang pandai-pandai banyak juga lho yang lebih suka bekerja ke luar negeri dari pada di sini digaji rendah dan meraih masa depan yang lebih baik. Inilah yang tetap menjadi pr dan tugas bangsa ini, padahal sudah 12 tahun dijalani, butuh berapa lama lagi?

    @ Sawali
    Waktu itu tahun 1997-1998 sedang ramai-ramainya, pemerintah memberikan cap kepada PRD sebagai komunis yang harus diberantas. Wiji Thukul sebagai ketua Jaringan Kesenian Rakyat underbow dari PRD. Lulusan SMTA Seni, kemudian aktif di theater dan aktivis buruh, sehingga tema-tema puisi lebih dekat pada perburuhan. Wiji itu padahal cedal, kalau dilihat puisinya pun terlihat norak dengan pemilihan kata-kata dalam dunia bahasa di lingkungan marjinal, teori sastra pun kalau menurut saya wiji tidak paham, hueheheh. Tapi puisinya bisa menjadi masterpiece. Kalau tidak salah Wiji itu buron pemerintah orde baru sejak th 1992, banyak selentingan tentang keberadaan dirinya. Setelah periode 1997-1998, sudah lenyap tidak ada kabar sama sekali hingga kini, meskipun hingga kini pihak keluarga tetap mencari. Namun banyak kalangan yang menggangap bahwa Wiji sudah meninggal.

    @ Antown
    Nah ayo kita hadapi kehidupan yang susah ini secara bersama, masing-masing berusaha untuk menjalani hidup yang lebih baik. Kalaupun ternyata kita tetap susah, minimal anak cucu kita kelah akan hidup menjadi lebih sejahtera.

    @ Nita
    Kalau dihitung semenjak awal-awal dari tahun 1966 tentu akan banyak sekali. Iya ya, mungkin untuk melenyapkan (maaf = mengeksekusi) Wiji Thukul akan lebih simpel dibandingkan dengan Rendra atau Pramoedya. Selain itu Wiji mungkin sama sekali tidak punya koneksi (“power”) di kalangan akademisi maupun LSM yang mempuni memiliki bergaining.

    @ Panda
    Iya pak, merebut masa depan bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

  9. Memang perlindungan terhadap buruh kita buruk sekali, padahal buruh ujung tombak perusahaan bukan?

    seharusnya pemerintah mlindungi hak2 buruh ini, karena tak bisa dipungkiri mayoritas masyarakat indonesia adalah buruh.

  10. @ Harjo
    Iya pak, masa lalu tidak akan bisa dihapus begitu saja dari sejarah, namun yang terpenting adalah masa depan, bagaimana bisa lebih baik dari masa lalu.

    @ Krucial
    Mayoritas buruh, yaitu buruh tani. Eh pupuk harganya setinggi langit. Gantian ada program pupuk bersubsidi, eh tiba-tiba jadi langka, menghilang dari pasaran. Seperti acara komedi saja pak.

    @ Ulan
    Kalau TKW, bukan pahlawan visa tapi pahlawan devisa mbak hehe.

    @ Qizinklaziva
    Tetapi bekas di jalanan itu sudah di pel dengan rapi sehingga tidak berbekas lagi, hanya tinggal membekas dalam kenangan. Pakai kain pel apa? Gelap pak

    @ Iis
    Gablog itu ternyata artinya Gak baca Blog, kalau di tempat saya gablog itu nasi yang dipadatkan kemudian dibentuk seperti kue bundar yang besar lalu diiris kecil-kecil dan dikasih parutan kelapa, bu Iis.

  11. Sejek mengheningkan cipta

    Kau ada pahlawan tanda pangkat

    ini lah teka teki yang sampai sekarang kita harus bongkar bagaiman sih sebenarnya ini bisa terjadi pasti masih banyak orang yang tersisah pada orde baru lalu yang harus mereka pertanggu jawabkan

    sukses buat mas

  12. Semoga pemerintah tidak menjadikan kejadian 27 juli sebagai alat dagang politik krn udah beberapa presiden termasuk Ibu Megawati gagal mencari aktor yang bikin rusuh.
    Edan

  13. @ Masmintar
    Wah apalagi saya pak, juga hanya bisa membaca dan berfikir, namun belum bisa berbuat banyak. Cuma hanya bisa berdiskusi. Salam kenal kembali pak dan sukses untuk bapak sukses untuk kita semua.

    @ Gelandangan
    Iya, pak tujuan postingan ini tidak lain dan tidak lebih hanya untuk sebagai pengingat bahwa apa yang terjadi di masa lalu tidak bisa ditutup-tutupi dan harus ada pertanggung jawaban setiap apapun perbuatan.. Namun demikian masa depan adalah lebih penting, sehingga dengan belajar dari masa lalu memberi hikmah bahwa cara-cara demikian akan semakin memperburuk saja sejarah bangsa ini.

    @ Daaan
    Harapannya adalah jangan lagi terjadi dan mari kita berusaha untuk menciptakan kedamaian di bumi Indonesia ini pak.

    @ Shaleh
    Betul pak shaleh, memang tidak bisa lepas sepenuhnya dari urusan politik, namun masalah kemanusiaan lebih penting, apalagi menyangkut warga negara sendiri. Semoga harkat dan martabat kemanusiaan dapat dijunjung di negeri ini.

    @ Sapimoto
    Inilah pak, kejadian-kejadian tersebut lebih banyak mandek ketika masuk ke dalam meja diplomasi politik, sehingga tidak ada penyelesaian tuntas secara hukum.

    @ Dee
    Mari mbak, kita memberikan seruan bahwa yang bisa menghargai martabat wanganera Indonesia juga bangsa Indonesia itu sendiri.

    @ Achoey
    Betul sekali pak Achoey, kita tetap harus optimis untuk selalu yakin dan bersemangat bahwa Indonesia akan lebih baik di masa-masa yang akan datang.

  14. wah, sekejam itu yah rezim waktu itu…. bisa kita bayangin berapa banyak orang yang hilang tiap tahunnya kalo misal sampe sekarang masih dilakuin…. mari semua kita lawan itu semua!!!!

    btw, blog saya pindah… jadi kalo mo komen ke blog yang baru aja yah…..

  15. bila rakyat tidak berani mengeluh
    itu artinya sudah gawat
    dan bila omongan penguasa
    tidak boleh dibantah
    kebenaran pasti terancam

    apabila usul ditolak tanpa ditimbang
    suara dibungkam
    kritik dilarang tanpa alasan
    dituduh subversif dan mengganggu keamanan
    maka hanya ada satu kata: lawan!

    Wiji Thukul, Solo, 1986

  16. Ada satu karya dari Wiji Thukul yang menurutku sangat memberikan inspirasi dan sangat fundamental, yakni :

    Wiji Thukul “Batas Panggung” :

    Ini daerah kekuasaan kami

    Jangan lewati batas itu

    Jangan campuri apa yang terjadi disini

    Karena kalian penonton

    Kalian adalah orang luar

    Jangan rubah cerita yang telah kami susun

    Jangan belokkan jalan cerita yang telah

    Kami rencanakan

    Karena kalian adalah penonton

    Kalian adalah orang luar

    Kalian harus diam

    Biarkan kami menjalankan kekuasaan kami

    Tontonlah

    Tempatmu disitu

  17. @ Aziz
    Betul pak, berapa banyak. Nah namun sekarang sudah lebih baik dari pada dahulu. Syukurlah, ini juga atas jasa beliau-beliau seperti Wiji Thukul, rekan-rekan mahasiswa, dan semua yang berkomitmen terhadap kehidupan bangsa.

    @ Arul
    Peristiwa sepanjang 1997-1998, hampir semua perhatian terfokus, tidak hanya di Indonesia, media-media luar negeri pun menyusun headline news, hingga sampai Pemilu tahun 1999. Oh ya tahun 1998 juga ada pemilu, pemerintahan hasil pemilu 1998 hanya berumur setahun hehehe.

    @ Abdee
    Ini sajak berjudul peringatan. Sajak inilah pak yang konon menjadi awal dari kisah-kisah Wiji seperti yang kita baca dari riwayat hidupnya. Di dalam konteks sekarang sajak peringatan tersebut adalah mari kita lawan kemiskinan, kebodohan, kemalasan, perilaku ingin menang sendiri, perusak lingkungan hidup, banjir dan kekeringan, kelaparan dan kurang gizi, pengangguran. dsb.

    @ Rizky
    Kalau sekilas sajak itu adalah interaksi antara pemain theater dengan penontonnya. Namun dalam kontek situasi dan kondisi jaman Wiji adalah interaksi antara kehidupan berkesenian dengan otorisasi kekuasaan pemerintahan. Mungkin makna dari sajak itu adalah pesan bahwa pemerintah tidak bisa sewenang-wenang, karena semua ada aturannya.

    @ Elys
    Betul bu elys, sudah ada pihak-pihak yang berwenang yang seharusnya dapat menyelesaikan kronologi dan pertanggung jawaban tindakan yang terjadi lebih dari 12 tahun yang lalu. Jadi kita pun hanya bisa berbuat tentu saja sesuai dengan kapasitas dan kemampuan diri kita.

  18. @ Okta
    Iya pak okta.

    @ Mantan
    Iya pak menceritakan kembali, agar selalu diingat

    @ Suhadinet
    Betul pak, semoga dengan kompromi untuk memecahkan masalah digunakan di masa-masa yang akan datang.

    @ Denny
    Moral, Material, Pasar, 3 suku kata yang paradogmatis.

    @ Baderiani
    Semoga tidak akan terjadi lagi.

  19. […] Sisa-Sisa Peristiwa 27 Juli E D A N sudah dengan cerita mursilah? edan! dia dituduh maling karena mengumpulkan serpihan kain dia sambung-sambung jadi mukena untuk sembahyang padahal mukena tak dibawa pulang padahal mukena dia taroh di tempat kerja edan! sudah diperas dituduh maling pula sudah dengan cerita santi? edan! karena istirahat gaji dipotong edan! karena main kartu lima kawanny […] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s