Hyperreality Paradigm

Tokoh postmodern, Jean Baudrillard, menyatakan media terutama televisi mampu menampilkan simulasi/model yang demikian intens memenuhi ruang kehidupan sosial, sehingga mengaburkan batas antara citra dan fakta. Citra menjadi lebih real dibanding realitas sebenarnya sehingga cenderung dijadikan kriteria. Ini disebut hyperreal yang menjadi ciri dunia postmodern, yakni kondisi di mana kenyataan sebenarnya kalah oleh citra dan penampakan media. Dian Sastro dan James Bond terasa lebih real dibandingkan tetangga kita sendiri.

Di dalam filsafat postmodern, terminologi karakteristik hypereality adalah perpindahan peran antara reality dan fantasy kemudian membentuk cultur postmodern (posmo).

Ada banyak contoh seperti relity by proxy yaitu lebih nikmat dan puas dengan membuka situs porno dibanding aksi hubungan seks secara nyata, pohon natal plastik terlihat lebih bagus dibanding pohon cemara asli, koran kertas tidak friendly dibaca dibanding cybermedia, atau Dysneland lebih menajubkan dibanding datang langsung ke Antartika.

Pada konteks yang lain, bahwa tidak dapat ditampik, arus akan semakin menuju ke arah dunia virtual. Paradigma hypereal (The Hyperreality Paradigm) memperlihatkan tidak ada lagi batas-batas geografis negara. Informasi dapat diperoleh dari database imajiner senyata dengan dunia nyata menjadi dunia virtual. Data-data virtual ini mampu memberi stimulasi hingga bisa dirasakan dan disentuh seperti menyentuh benda nyata (Physical Reality).

Pada konteks yang lain, saat 10 atau 20 tahun yang akan datang jika orang bertanya pada saya, di mana alamatmu? Kemudian saya jawab di Jl.Diponegoro No.777 Semarang, mungkin orang tersebut akan binggung, karena yang dimaksud rumah yaitu studysafe@mail.com. Bisa jadi 20 atau 30 tahun yang akan datang alamat rumah yang tertulis pada KTP saya yaitu aryobandoro.com. Sehingga setiap bayi yang lahir, maka pada saat itu pula proses registrasi nama domain dirinya dilakukan secara otomatis dan catatan sipil pun menjadi seperti index google.

Mungkin tulisan ini terdengar radikal, namun sangat yakin bahwa proses peradaban sedang mengarah ke sana meskipun dengan teknis yang berbeda, dan meskipun saya sendiri juga bukan tukang ramal apalagi dukun.

Wah… bikin kopi dulu.

22 pemikiran pada “Hyperreality Paradigm

  1. wah, budaya posmo agaknya telah melahirkan banyak perubahan paradiga dalam ola dan gaya hidup, pak aryo. saya tidak tahu pasti, apakah kultur semacam ini hanya menjadi sebuah trend sesaat. yang pasti, seperti tesis Jean Baudrillard, media2 digital akan merasuki sekat2 kehidupan rumah tangga di mana jutaan pasang mata akan terhipnotis. bisa jadi, manusia akan makin tercerabut dari akar sosialnya secara nyata. fenomena itu agaknya kini mulai jelas terlihat, pak. mungkin kultur posmodern ini tak hanya menhinggapi masyarakat perkotaan, masyarakat di daerah pedesaan pun sudah meulai mengakrabinya. walah, bener nggak, ya, pak?

  2. Hal ini akan lebih diperparah lagi masa mendatang manakala manusia dapat “mengkopi” molekul-molekul yang ada di suatu benda sehingga yang virtual menjadi lebih nyata lagi. Pada saat ini hanya gambar (bergerak atau mati) dan suara saja yang masih bisa dikopi. Namun jikalau molekul sudah berhasil “dikopi” mungkin bau, panas dan dingin, bahkan sebuah produk riil dapat di-download langsung ke meja komputer anda. Kalau sudah begitu…… hmmm….. apa duit bisa di-download juga ya??:mrgreen:

  3. Halo Salam
    Sehat selalu tentunya , maaf beberapa saat tidak mengikuti postingan anda karena berada di luar daerah ( Hutan Sumatra ) nggak dapat jaringan GPRS maklum bangun tower jadi tentu di lokasi no signal
    tapi apa yang anda paparkan mendekati kenyataan kerena sekarang rame rame untuk ke arah sana di tandai maraknya pembangunan jaringan teknologi informasi yang membawa ke arah peradaban yang seperti anda tuturkan
    sukses selalu

  4. daya tarik virtual mungkin lebih kuat dr yg nyata. kerapkali dunia virtual malah mampu menampilkan sesuatu yang lebih indah dan seru dibandingkan hal yg sesungguhnya. apalagi bagi orang2 asosial, dunia virtual bisa jadi tempat ternyaman utk melakukan banyak hal yg gak mampu dilakukannya di dunia nyata

  5. @ Sawali
    Tidak bisa dihindari pak Sawali, dunia nyata akan semakin terganti oleh dunia virtual, maka nilai-nilai akan diukur dari citra virtual. Orang akan lebih familier dengan google dibanding tetangga sendiri atau saudara. Setiap saat bersentuhan dengan alam virtual dan semakin sedikit interaksi dengan alam nyata.

    @ Yari
    Bisa pak, contohnya paypal hehe, donlud duit. Semakin lama kita tidak memegang uang secara nyata karena proses transaksi dilakukan dengan klik mouse. Kalau copy molekul pasti kearah sana. Jadi ingat stik getar pada game PS, seolah-olah tangan dapat merasakan getaran saat main game.

    @ Kambingkelir
    Sehat pak, terima kasih sama-sama. Wah sedang sibuk ya pak, semoga lancar dan sukses selalu pak.

    @ Nita
    Hehehe, dunia virtual lebih seru dibanding dunia nyata, memang betul. Dalam interaksi sosial sebenarnya sama, antara nyata dengan virtual karena di dalamnya memuat kaidah-kaidah antar karakter. Nah untuk membangun karakter di dunia virtual mungkin lebih mudah dibanding di dunia nyata.

  6. Mungkin juga itu akan terjadi seperti yang sampaeyan prediksikan mas, yang harus kita siapkan adalah membekali generasi kita agar lebih siap menerima keadaan yang akan ia hadapi dengan bekal pengetahuan dan iman spritualnya….salam

  7. budaya posmo itu sedikit banyak kini mulai tampak. Masyarakat juga sudah semakin jauh dengan realitanya. Coba saja tanya anak-anak, siapakah tokoh hero. Mereka akan menjawab Superman atau Power Ranger. Padahal tokoh yang disebutkan itu hanya rekayasa citra dari dunia digital. Anak-anak masa kini sudah tersingkir dari realitasnya. Sehingga pada 10 atau 20 tahun mendatang, mereka bisa jadi hanya memiliki identitas digital dalam hidupanya!!!!

  8. tidak bisa membayangkan jika masa ini terjadi. dimana kita masih membutuhkan makanan sebagai sumber energi, tidak mungkin asupan gizi kita bertambah hanya karena makan di dunia maya.

  9. Ini artikell paling menarik dalam sejarah aku berkunjung ke blog ini. Apa boleh buat, dunia memang sudah dilipat, Mas Aryo. 10 atau 20 tahun lalu tak pernah terbersi media semacam blog ini. Sehingga secara sosial kita sudah lebih banyak berbincang melalui layar (apa yang tak ada di sana) ketimbang sentuhan fisik secara langsung. It’s global scale!

  10. @ Achmad Sholeh
    Betul pak, mempersipakan diri adalah yang terbaik.

    @ Panda
    Pasti pak panda, dampak negatif pasti ada.

    @ Shaleh
    Ya pak, paradigma virtual world adalah prediksi saja berdasarkan tren yang ada.

    @ Qizink
    Abad akan datang adalah abad virtual. Mungkin anak2 kita nanti yang akan menjalani jaman tersebut.

    @ Kishandono
    Haha, untuk makan dan minum sudah pasti pak untuk kebutuhan fisik, nah mungkin serat dan gizi yang dikonsumsi memiliki formula yg berbeda dengan sekarang, sesuai dengan kebutuhan. Misalnya karbohidrat semakin sedikit, tetapi serat dan mineral lebih banyak dibutuhkan, misalnya untuk aktivitas berfikir.

    @ DM
    Kita tidak terasa, proses digitalisasi kehidupan terasa semakin cepat, 10 th yang lalu belum kenal blog. Mungkin ke depan justru proses merkalan kelipatan 1/2 dari waktu 10 th tersebut. Setiap individu tidak bisa lari dari proses jaman ini.

  11. relity by proxy

    => maksudnya Reality By Proxy kali?

    ya ya ya… bisa juga itu terjadi,
    *harus siap2 kapling rumah maya nih, beli domain gak yah? :-p*

    rumah saya sekarang masih ngontrak di wordpress, untung masih gratisan kalo kena pajak gimana coba?

  12. Saya lupa siapa gitu yang pernah mengatakan, dunia itu begitu datar, semua yang tampak oleh kita hanya ….. (saya lupa terusannya). anyway saya kenal baudrillard pas kemarin mau skripsi, dan saat ini saya bisa liat wajahnya.
    Menyenangkan bisa mampir ke blog ini, saya semakin senang berdiskusi lagi. Anyway blog sampean masuk kategori blog yang bermanfaat.

    Tetap semangat!!

    salam kreatif

  13. […] Hyperreality Paradigm Tokoh postmodern, Jean Baudrillard, menyatakan media terutama televisi mampu menampilkan simulasi/model yang demikian intens memenuhi ruang kehidupan sosial, sehingga mengaburkan batas antara citra dan fakta. Citra menjadi lebih real dibanding realitas sebenarnya sehingga cenderung dijadikan kriteria. Ini disebut hyperreal yang menjadi ciri dunia postmodern, […] […]

  14. Hey there! This is my 1st comment here so I just wanted to
    give a quick shout out and tell you I truly enjoy reading your posts.
    Can you recommend any other blogs/websites/forums that go over the same subjects?
    Thanks a ton!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s